KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang karena anugerah
dari-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang "Pengambilan Keputusan"
ini. Kami mengucapkan banyak terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini
berlangsung sehingga terealisasikanlah makalah ini.
Demikian yang
dapat kami sampaikan, semoga makalah ini bisa bermanfaat dan berguna bagi
pembaca.
DAFTAR ISI
Sampul
Kata
Pengantar..........................................................................................................
I
Daftar Isi..................................................................................................................
II
BAB I
a. Latar
Belakang......................................................................................
III
b. Rumusan Masalah...............................................................................
III
c. Tujuan
dan
Manfaat.............................................................................
III
BAB II
a.
Pengertian
komunikasi...........................................................................
1
b. Sifat
Dasar Pengambilan Keputusan.......................................................
1
c. Dasar
Pengambilan Keputusan………………………………………….3
BAB III
a.
Kesimpulan..........................................................................................
…5
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap individu atau organisasi
tidak akan terlepas dari masalah. Masalah pada dasarnya adalah penyimpangan
atau ketidaksesuaian dari apa yang semestinya terjadi atau tercapai. Kesalahan
dalam melakukan identifikasi masalah akan menyebabkan kesalahan dalam
penyelesaiannya. Ada sebuah frase menyatakan bahwa, jika kita gagal dalam
melakukan identifikasi masalah, maka sesungguhnya kita akan gagal dalam
menyelesaikan masalah tersebut. Kesalahan identifikasi tersebut bisa disebabkan
kita salah dalam menafsirkan gejala yang merupakan akibat dari masalah yang
terjadi. Untuk dapat menyelesaikan masalah, maka perlu dilakukan proses
penyelesaian masalah dari mulai mengumpulkan informasi yang terkait dengan
gejala dan masalah yang dihadapi, hingga kepada penyelesaian masalah yang
mungkin dapat dilakukan. Proses tersebut sering kali dinamakan sebagai proses
penyelesaian masalah (problem solving).
Penyelesaian masalah sering
kali tidak mudah karena berbagai faktor yang terkait dengan masalah sering kali
tidak berpola tunggal, baik yang terkait dengan faktor penyebab maupun
alternatif penyelesaiannya. Tidak berpola tunggal artinya faktor penyebab dan
alternatif penyelesaiannya bisa saja tidak satu. Pertanyaannya adalah
alternatif mana yang akan dipilih. Jawaban atas pertanyaan terakhir membawa
kita kepada sebuah teori dalam penyelesaian masalah yang sering kali dinamakan
sebagai teori pengambilan keputusan. Alternatif yang mana yang akan kita pilih
pada dasarnya mendorong kita untuk mengambil keputusan, karena keputusan harus
diambil agar proses dapat terus berjalan.
Boleh dikatakan bahwa setiap
organisasi yang sukses harus mampu dan mau membuat keputusan yang memungkinkan
organisasi mencapai sasaran dan mencapai kebutuhan utama anggota organisasi.
Bagaimana pun seluruh aktivitas dan fungsi manajemen pada pokoknya memiliki
esensi pengambilan keputusan. Sebab proses perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengawasan semuanya mengandung konsep dan perilaku pengambilan
keputusan.
B.
Rumusan Masalah
1. Pengertian Pengambilan
Keputusan
2. Sifat Dasar Pengambilan
Keputusan
3. Dasar Pengambilan Keputusan
C. Tujuan Penulisan
1.
Pengertian
Pengambilan Keputusan
2.
Sifat
Dasar Pengambilan Keputusan
3.
Dasar
Pengambilan Keputusan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pengambilan Keputusan
Setiap pemimpin pasti
bertanggungjawab terhadap masa depan organisasinya. Untuk itu tujuan yang telah
ditetapkan harus dapat tercapai dengan berbagai aktivitas dan kebijakan. Salah
satu yang harus dilakukan pemimpin dalam rangka pencapaian tujuan organisasi
adalah pengambilan keputusan.
Untuk memberikan pemahaman
tentang pengambilan keputusan, terlebih dahulu dikemukakan pengertian
pengambilan keputusan. Menurut Robins dalam Mesiono pengambilan keputusan
adalah : “decision making is a process in which one choose between two or
more alternatives”. Pendapat ini menegaskan bahwa pengambilan keputusan
sebagai proses memilih satu pilihan di antara dua atau lebih alternatif.
Pengambilan keputusan adalah menetapkan pilihan atau alternatif secara nalar
dan menghindari diri dari pilihan yang tidak rasional, tanpa alasan atau data
yang kurang akurat. Davis dalam buku yang sama, mengemukakan suatu keputusan
merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat
menjawab pertanyaan: tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang
dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan.
Menurut Mc. Farland decision :
“a decision is anact of choice where in an executive froms a conclusion
about what must or must not be done in a given situation”. (Keputusan
adalah suatu tindakan pemilihan di mana pimpinan menentukan suatu kesimpulan
tentang apa yang harus atau tidak harus dilakukan dalam situasi yang tertentu).
Selain itu juga dapat dipahami bahwa pengambilan keputusan itu tidak terlepas
dari upaya memilih alternatif-alternatif yang tepat untuk situasi tertentu
dengan langkah-langkah tertentu pula.
B.
Sifat Dasar Pengambilan Keputusan
Dalam situasi atau manajemen
tertentu, suatu keputusan harus mendahului suatu atau semua pekerjaan. Dengan
kata lain, rangkaian pengambilan keputusan merupakan pekerjaan yang pertama dan
paling awal dari sebuah pelaksanaan pekerjaan suatu organisasi, kelompok, unit
atau individu. Bagaimana pun sebuah pekerjaan dalam pelaksanaannya diawali dari
keputusan. Dalam hal ini keputusanlah yang akan menentukan corak masa depan
suatu organisasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keputusan akan tetap
menjadi sebuah tindakan yang mendahului pelaksanaan pekerjaan sebab keputusan
sebagai pangkal tolak semua kegiatan dan akan menentukan masa depan organisasi,
baik berupa kemajuan, pengembangan atau mungkin saja kemunduran atau bangkrut
akibat salah dalam mengambil keputusan. Meskipun penuh ketidakpastian, sebuah
keputusan dibuat justru bersifat masa depan dan menjadi panduan dalam
menentukan tindakan manajemen dan organisasi. Dengan begitu, jelaslah bahwa
pengambilan keputusan merupakan hal yang penting untuk dilakukan dalam
hubungannya dengan organisasi. Dalam menentukan alternatif untuk menjadi sebuah
keputusan dibutuhkan pertimbangan-pertimbangan sebelum jatuh pada sebuah keputusan.
Pada kondisi inilah dibutuhkan ketajaman analisis terhadap masalah-masalah yang
dihadapi. Sehingga pengambilan keputusan itu memberikan keuntungan-keuntungan
dengan kemampuannya dalam memilih dan menetapkan alternatif.
Salah satu tolak ukur utama
yang biasa digunakan untuk mengukur efektivitas kepemimpinan seseorang yang
menduduki jabatan pimpinan dalam dalam suatu organisasi ialah kemampuan dan
kemahirannya mengambil keputusan. Sondang P. Siagian mengemukakan bahwa suatu
keputusan dapat dikatakan sebagai keputusan yang baik apabila memenuhi empat
persyaratan, yaitu rasionalis, logis, realistis, dan pragmatis. Pengalaman dan
penelitian menunjukkan bahwa efektivitas demikian hanya mungkin dicapai apabila
seorang pengambil keputusan mampu menggabungkan secara tepat tiga jenis
pendekatan. Pertama, pendekatan yang didasarkan pada teori dan asas-asas ilmiah
yang telah dikembangkan oleh para teoritisi yang mendalami proses pengambilan
keputusan. Kedua, pendekatan yang memanfaatkan kemampuan berpikir kreatif,
inovatif,, dan intuitif disertai keterlibatan emosional. Ketiga, kemampuan
belajar dari pengalaman mengambil keputusan di masa lalu, baik karena keberhasilan
maupun karena kegagalan.
Banyak definisi mengenai
pengambilan keputusan dalam organisasi. Winardi dalam Susmaini dan Rifa’i
mengemukakan bahwa secara sederhana pengambilan keputusan adalah adanya
kemungkinan pilihan antara dua macam tindakan alternatif. Ivancevic dan
Matteson dalam buku yang sama, menyebutkan ada dua jenis keputusan, yaitu :
1. Keputusan terpogram, yaitu jika
pada situasi tertentu ada prosedur rutin yang biasanya bekerja dalam memecahkan
masalah. Maka keputusan terpogram adalah untuk memperluas kemampuan organisasi
dalam memecahkan masalah dengan adanya informasi yang mencukupi.
2. Keputusan tidak terprogram,
yaitu bila tidak ada cerita atau informasi tidak terstruktur. Tidak ada
prosedur yang tersusun bagi menangani masalah, juga sebab tidak ada secara
benar-benar sama masalah sebelumnya sehingga sangat rumit dan penting sekali.
Keputusan terprogram secara
sederhana dapat dikatakan, tindakan menjatuhkan pilihan yang berlangsung
berulang kali, dan diambil secara rutin dalam organisasi. Keputusan terprogram
biasanya menyangkut pemecahan masalah-masalah yang sifatnya teknis serta tidak
memerlukan pengarahan dari tingkat manajemen yang lebih tinggi. Karena masalah
yang hendak dipecahkan bersifat teknis, biasanya prosedur dan langkah-langkah
yang perlu ditempuh telah dituangkan dalam buku pedoman, yang biasanya terdapat
dalam organisasi yang dikelola secara rapi. Berbeda dengan keputusan terpogram,
keputusan tidak terprogram biasanya diambil dalam usaha memecahkan
masalah-masalah yang baru yang belum pernah dialami sebelumnya, tidak bersifat
repetitif, tidak terstruktur, dan sukar mengenali bentuk, hakikat dan
dampaknya. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan tidak terpogram biasanya
tidak teknis sifatnya. Artinya tidak menyangkut hal-hal yang sifatnya
operasional. Akan tetapi menyangkut kebijaksanaan organisasi dengan dampak yang
strategis bagi eksistensi organisasi yang bersangkutan.
Sering kurang disadari bahwa
tugas utama dari seorang pemimpin adalah mengambil keputusan. Segala sesuatu
yang terjadi dalam organisasi sebaiknya merupakan keputusan bersama yang
diputuskan oleh pemimpin, bukan karena terjadi secara kebetulan. Dengan
pengambilan keputusan yang tepat, segala pendadakan yang mungkin terjadi dapat
dihindarkan atau dikurangi. Keputusan yang diambil oleh berbagai eselon
pemimpin dalam organisasi tentu mempunyai bobot yang berbeda-beda. Semakin
tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi, semakin besar kualitas keputusan
yang diambilnya meskipun bobot keputusan tersebut sering bersifat umum. Setiap
keputusan yang diambil, baik di tingkat manajemen puncak, tengah, maupun bawah
memiliki beberapa syarat berikut:
1. Keputusan yang diambil harus
mempermudah dan mempercepat pencapaian tujuan.
2. Keputusan harus tepat sehingga
mampu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh organisasi.
3. Keputusan harus cepat diambil
untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan terbaik yang terbuka untuk organisasi.
4. Keputusan harus praktis, dalam
arti dapat dilakukan sesuai dengan kekuatan-kekuatan yang dimiliki organisasi.
5. Keputusan harus regional, dalam
arti dapat diterima oleh akal sehat dari para pelaksana.
C.
Dasar Pengambilan Keputusan
1. Pengambilan Keputusan
Berdasarkan Intuisi
Keputusan yang diambil
berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu mudah terkena
sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain. Sifat subjektif dari
keputusuan intuitif ini terdapat beberapa keuntungan, yaitu : 1) Pengambilan
keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan. 2) Keputusan
intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan.
Pengambilan keputusan yang
berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat Untuk masalah-masalah yang
dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif
akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, pengambilan keputusan ini sulit diukur
kebenarannya karena kesulitan mencari pembandingnya, dengan kata lain hal ini
diakibatkan pengambilan keputusan intuitif hanya diambil oleh satu pihak
saja sehingga hal-hal yang lain sering diabaikan.
2. Pengambilan Keputusan Rasional
Keputusan yang bersifat
rasional berkaitan dengan daya guna. Masalah – masalah yang dihadapi
merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat
berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat,
keputusan yang rasional dapat diukur apabila kepuasan optimal masyarakat dapat
terlaksana dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui saat itu.
3. Pengambilan Keputusan
Berdasarkan Fakta
Ada yang berpendapat bahwa
sebaiknya pengambilan keputusan didukung oleh sejumlah fakta yang memadai.
Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi.
Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data.
Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data
harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar
pengambilan keputusan. Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data atau
informasi yang cukup itu memang merupakan keputusan yang baik dan solid, namun
untuk mendapatkan informasi yang cukup itu sangat sulit.
4. Pengambilan Keputusan
Berdasarkan Pengalaman
Sering kali terjadi bahwa
sebelum mengambil keputusan, pimpinan mengingat-ingat apakah kasus seperti ini
sebelumnya pernah terjadi. Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui
arsip-arsip pengambilan keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman
masa lampau. Jika ternyata permasalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya,
maka pimpinan tinggal melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak
dengan situasi dan kondisi saat ini. Jika masih sama kemudian dapat menerapkan
cara yang sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang timbul. Dalam hal
tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan
masalah. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi
pengetahuan praktis. Pengalaman dan kemampuan untuk memperkirakan apa yang
menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat
membantu dalam memudahkan pemecahan masalah.
5. Pengambilan Keputusan
Berdasarkan Wewenang
Banyak sekali keputusan yang
diambil karena wewenang(authority) yang dimiliki. Setiap orang
yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil
keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi
yang efektif dan efisien. Keputusan yang berdasarkan wewenang memiliki beberapa
keuntungan. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain : banyak diterimanya
oleh bawahan, memiliki otentisitas (otentik), dan juga karena didasari wewenang
yang resmi maka akan lebih permanent sifatnya. Keputusan yang berdasarkan pada
wewenang semata maka akan menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan
praktik diktatorial. Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat
keputusan sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan justru
menjadi kabur atau kurang jelas.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengambilan keputusan dalam
tinjauan perilaku, mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Oleh karena
itu, untuk mengetahui apakah keputusan yang diambil baik atau buruk tidak hanya
dinilai setelah konsekuensinya terjadi, melainkan melalui berbagai pertimbangan
dalam prosesnya. Kegiatan pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk
kepemimpinan, sehingga:
·
Teori
keputusan adalah merupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalisis
situasi yang tidak pasti atau berisiko.
·
Pengambilan
keputusan adalah proses mental di mana seorang manajer memperoleh dan
menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk
menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data; manajer secara
individual dan dalam tim, mengatur dan mengawasi informasi.
·
Pengambilan
keputusan adalah proses memilih di antara alternatif-alternatif tindakan untuk
mengatasi masalah.
Dengan demikian, fokus
pengambilan keputusan adalah pada kemampuan menganalisis situasi dengan
memperoleh informasi seakurat mungking sehingga permasalahan dapat dituntaskan.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar